Namun, lembaran kertas itu bukan sekadar tanda lulus. Bagi Kasman, itu adalah "monumen" kemenangan atas keputusasaan yang hampir merenggut mimpinya.
Di usia yang masih sangat muda, Kasman diharuskan berada di persimpangan jalan, antara belajar atau mencari sesuap nasi. Perjalanan Kasman bermula saat ia bergabung dalam program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) angkatan ke-3. Program intensif selama enam bulan hasil kerja sama Harita Nickel dan lembaga IndoPanda ini menjanjikan gerbang menuju masa depan bagi pemuda di desa lingkar tambang. Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah membalik telapak tangan.
Setiap hari, Kasman harus bertarung dengan jarak. Medan sulit Soligi-Kawasi menjadi makanan sehari-hari. Bukan hanya faktor alam, "badai" yang sesungguhnya justru datang dari rumah bernama himpitan ekonomi. Sebagai tumpuan harapan keluarga, Kasman terjebak dalam dilema yang menyakitkan.
"Awalnya berat sekali. Saya merasa tidak sanggup dan ingin berhenti saja," kenang Kasman getir. Di kepalanya saat itu hanya ada satu pikiran, yaitu berhenti belajar agar bisa bekerja serabutan demi membantu dapur orang tuanya tetap mengepul.
Pendekatan Hati Tim CSR Mengetuk Pintu Rumah
Kabar tentang niat mundurnya Kasman sampai ke telinga tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel. Bagi perusahaan, Kasman bukan sekadar angka dalam statistik peserta, melainkan talenta lokal yang cahayanya tak boleh padam begitu saja.
"Kami mendengar cerita Kasman dan berpikir, sayang sekali jika ia berhenti. Kami tahu ada motivasi dan harapan besar dalam dirinya," ujar Ragil Pardiantoro, Community Development Supervisor Harita Nickel.
Alih-alih memberikan surat peringatan, tim CSR memilih jalan empati. Mereka menempuh perjalanan menuju kediaman Kasman di Desa Soligi untuk berdialog secara kekeluargaan. Di hadapan orang tua Kasman, tim memberikan pemahaman bahwa menguasai Bahasa Mandarin adalah “kunci emas” yang akan mengubah nasib keluarga mereka di masa depan, jauh lebih besar dibanding pendapatan serabutan saat ini.
Ketulusan tim CSR menjadi titik balik. Kunjungan itu meluluhkan keraguan orang tua Kasman. "Saya bisa lanjut karena kakak-kakak CSR datang meyakinkan saya dan orang tua. Dari situ, semangat saya bangkit kembali," tutur Kasman.
Dukungan orang tua menjadi bahan bakar baru. Kasman melesat melampaui keterbatasannya. Dari 30 peserta yang memulai perjuangan, hanya 22 orang yang berhasil bertahan hingga garis finis, dan Kasman secara mengejutkan keluar sebagai lulusan terbaik kedua.
Ia membuktikan bahwa pemuda lingkar tambang bukan hanya penonton di tanah sendiri. Melalui program PELITA, mereka bertransformasi menjadi pemain utama yang memiliki sertifikasi kompetensi di industri global.
Bagi Kasman, hari wisuda itu adalah garis start baru. Program yang memadukan kurikulum berkualitas dengan pendampingan penuh empati ini telah mengubah garis tangannya.
"Saya percaya skill Bahasa Mandarin ini mampu membawa masa depan yang lebih cerah," kata dia penuh optimisme. Di balik senyumnya, kini tak ada lagi keraguan, hanya ada kesiapan untuk menaklukkan tantangan di masa depan.
